Noktah Hitam Akhir Tahun

Tahun ini beranjak menjemput akhirnya. Menyongsong tahun baru yang sudah di depan mata. Tapi, di antara hari-hari yang silih berganti mendekati pergantian tahun, di sana, di tanah Palestina mortir-mortir Israel masih saja terus menggempur jalur Gaza.

Sabtu, 27 Desember 2008, lebih dari 300 jiwa terenggut begitu saja, belum lagi 1.400 korban luka lainnya. Dengan alasan serangan balasan, rumah sakit dan tempat ibadah ikut luluh lantak dibombardir. Masyarakat sipil menjadi korban, termasuk pula wanita dan anak-anak. Miris rasanya membanyangkan saat misil-misil tentara Israel menembus tubuh-tubuh tak berdosa itu.

Berdalih bahwa tentara Hamas telah melakukan hal yang sama pada mereka, Israel membabi buta. Seolah tak punya hati, mereka seolah menganggap tindakannya wajar saja. Padahal seluruh dunia telah mengecam tindakan mereka. Kalau memang tentara Hamas bersalah, lantas mengapa masyarakat sipil yang harus menjadi tumbalnya.

Tidakkah mereka punya otak untuk berpikir betapa sadis yang mereka lakukan. Tidakkah mata untuk melihat seberapa besar kehancuran yang mereka sebabkan. Tidakkah mereka punya hati untuk iba pada anak-anak yang menjadi yatim karena gempuran Israel telah merenggut orang tuanya...

Indahnya kesulitan...

Tak dapat dipungkiri kesulitan merupakan bagian dari hidup. Di samping kebahagiaan dan pengharapan, bagian ini juga menjadi dominan dalam hidup setiap orang. Berbagai reaksi pun timbul dalam menyikapinya. Sabar dan ikhlas, atau rasa putus asa menjadi salah satunya.

Dalam kesulitan manusia seringkali mengeluh dan menyalahkan Tuhan atas apa yang telah Ia gariskan. Menuding Tuhan tidak adil dalam menggores takdir padanya tanpa berpikir pantaskah yang dia lakukan. Ya, memang kesulitan tidak mungkin terjadi tanpa kehendak Tuhan. Tapi, kita juga harus ingat Tuhan jugalah yang telah menganugerahkan berjuta anugerah terindah dalam hidup kita. Anugerah yang bernama kebahagiaan.

Andai saja kita lebih bijak dalam meyikapinya, tentu kesulitan itu akan menjadi suplemen penguat hati dalam menjalani hidup yang keras ini.

Pernahkah Anda mendengar kisah tentang seorang anak yang mencoba menolong seekor kupu-kupu untuk keluar dari kepompongnya?

Kisah itu menceritakan seorang anak yang terus mengamati sebuah kepompong, hingga suatu hari kepompong itu mulai terbuka. Dari dalamnya tampak seekor kupu-kupu yang dengan susah payah mencoba untuk keluar dari kepompongnya. Dengan tubuh dan sayapnya yang begitu halus, kupu-kupu itu merobek kepompongnya sedikit demi sedikit. Tak sabar untuk segera melihat kupu-kupu itu terbang, si anak tadi lalu mengambil gunting dan merobek kepompong itu. Namun, bukannya dapat terbang gemulai, kupu-kupu itu justru jatuh dan terkulai. Ia tak mampu membentangkan sayap indahnya.

Si anak pun sadar. Kerasnya kepompong yang membalut tubuh lemah kupu-kupu itu merupakan latihan bagi kupu-kupu itu agar ia bisa menguatkan sayapnya, agar kemudian ia bisa membentangkan sayapnya untuk terbang.

Seperti itu pulalah kehidupan manusia. Segala kesulitan merupakan ujian untuk yang akan menempa kita untuk menjadi lebih kuat menjalani kehidupan. Pada akhirnya nanti kita akan menyadari betapa indahnya kesulitan...

Singkawang, Kota Seribu Klenteng

Singkawang merupakan kota terbesar kedua di Kalimantan Barat setelah Pontianak. Gedung-gedung tua yang telah berdiri sejak zaman pendudukan Belanda memberikan nuansa tersndiri di samping suasana kotanya yang begitu tenang.

Namun, ada satu hal yang membuat kota yang terletak sekitar 120 km arah utara Pontianak ini begitu khas dan berbeda. Kota yang mayoritas penduduknya adalah warga keturunan cina ini memiliki nuansa oriental yang sangat kental. Di kota ini anda dapat menemui ratusan bahkan ribuan klenteng atau -biasa disebut warga lokal- pekong. Tak heran kota ini biasa dijuluki kita seribu klenteng.
Tak berhenti sampai di situ, nuansa oriental yang ditawarkan akan lebih kental terasa pada perayaan tahun baru imlek. Perayaan tahun baru imlek di kota ini sangat meriah, dan akan mencapai puncaknya pada perayaan cap go meh. Cap go meh sendiri jatuh pada hari kelima belas bulan pertama pada penanggalan cina. Pada hari itu seluruh penduduk akan tumpah ruah ke jalan-jalan untuk menyaksikan arak-arakan barongsai dan naga yang dipertontonkan secara gratis. selain itu, kita juga dapat melihat tatung atau dukun yang sedang kerasukan diarak dengan tandu yang dudukan dan pijakannya terbuat dari pedang, tombak, paku, dan benda tajam lainnya. Tatung itu akan menusukkan kawat besi hingga menembus kulit wajahnya. Hmm, lumayan ekstrim.

Singkawang tidak hanya memberikan aura pecinan pada perayaan tahun baru imlek saja. Pada hari-hari biasa pun anda juga bisa menemui suasana khas tiong hoa. Caranya dengan mengunjungi Pasar Hongkong. Pasar Hongkong? Ya, meski namanya Pasar Hongkong, letaknya masih di Singkawang.

Pasar yang resminya bernama pasar beringin ini sangat menunjukkan nafas khas kota-kota pecinan. Pada siang hingga sore hari pasar ini dipenuh toko-toko sembako dan kelontong. Dan pada sore hingga subuh pasar ini akan berubah menjadi pasar malam yang dipenuhi oleh gerobak-gerobak dorong yang menjual beraneka pilihan kuliner, mulai dari martabak manis hingga mie goreng Pasar Hongkong yang tak diragukan kelezatannya. Nah, Pasar malam inilah yang kemudian lebih dikenal dengan Pasar Hongkong.

Hmm, tertarik untuk berkunjung?

Yang Penting Eksis...

Blog atau weblog memang bukan sesuatu yang baru, terutama di kalangan para peselancar dunia maya. Memang sejak awal pengenalannyahingga saat ini bloog semakin banyak peminatnya. Terlebih lagi sejak diluncurkannya layanan blogger.com pada Agustus 1999 silam oleh Pyra Lab, sebuah perusahaan di Silicon Valley, San Francisco, California, Amerka Serikat. Layanan ini memungkinkan setiap orang untuk dapat menciptakan blognya sendiri secara gratis dan tanpa harus menguasai bahasa HTML terlebih dahulu.

Hmm...
Jika semua orang bisa membuat blognya sendiri, lantas siapa yang siapa yang akan membaca blognya selain si penulis sendiri dan beberapa orang temannya? Lalu, apa yang istimewa dari blog ini selain menjadi tempat curhat atau menjadi mimbar bagi para orator yang tak punya pendengar. Mungkin itu yang akan dikatakan oleh orang-orang yang sinis terhadap tingginya peningkatan pengguna blog yang tetap eksis.

Bagaimana pun spekulasi orang-orang terhadap menjamurnya blog ini, tetap saja banyak yang setia untuk tetap menulis di blog mereka. Mereka yang tetap eksis ini merupakan bukti nyata dari banyaknya keuntungan yang didapatkan dari mengelola blog. Mulai dari buku harian on line yang menjadi tempat curhat sampai tempat untuk mencari informasi, atau sekedar menjadi mimbar bagi para orator yang tak punya pendengar.

Apa pun yang orang bilang, yang penting kita -para bloger- bisa terus menulis tanpa perlu memusingkan komentar dari orang-orang yang sinis pada kita yang tetap eksis...

Copyright © 2008 - Cuma Catatan Biasa - is proudly powered by Blogger
Blogger Template