Akhir-akhir ini saya dan teman-teman sering menghabiskan sore di Taman Alun-alun Kapuas seraya menikmati lazuardi merah dan jingga dikala senja. Dan tetap saja, pesonanya tak pernah gagal menyihir pandangan. Namun sayangnya, di balik keindahannya yang memikat, ternyata Kapuas kini tak lagi sehat.
.
Kondisi sungai Kapuas agaknya kini semakin memburuk. Semakin tingginya penduduk yang bermukim di bantaran sungai sedikit banyak turut mempengaruhi keadaan sungai Kapuas yang kini terlihat semakin memprihatinkan. :c :c :c
a
Terkadang miris rasanya melihat masyarakat yang umumnya tergantung pada keberadaan air sungai Kapuas, justru tak jarang ikut mengotori sungai dengan sampah dan limbah rumah tangga. :# Selain membuat sungai tak lagi bersih, perilaku seperti ini tentunya dapat menghilangkan pesona sungai Kapuas.
Terkadang miris rasanya melihat masyarakat yang umumnya tergantung pada keberadaan air sungai Kapuas, justru tak jarang ikut mengotori sungai dengan sampah dan limbah rumah tangga. :# Selain membuat sungai tak lagi bersih, perilaku seperti ini tentunya dapat menghilangkan pesona sungai Kapuas.
a
Belum lagi jika mengingat kandungan logam berat yang semakin mencemari sungai. Setelah melalui beberapa kali dilakukan pengujian, dapat diketahui bahwa kandungan logam berat, terutama senyawa merkuri (methyl mercury), pada air sungai Kapuas sudah melebihi ambang batas. :o Keadaan seperti ini menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat, terlebih lagi mereka yang menggunakan air sungai untuk keperluan sehari-hari. :(
a
Tak hanya airnya, ikan-ikan yang terdapat di sungai yang membelah Kalimantan sepanjang 1.143 km ini pun bisa jadi berbahaya untuk dikonsumsi. Mengapa? Hal ini dikarenakan logam berat yang terkandung dalam air sungai bisa saja masuk dan terkonsentrasi di dalam tubuh ikan. Jika logam berat masuk dan terakumulasi di tubuh manusia dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan hingga kerusakan susunan syaraf. :o
a
Masalah ini kini menjadi fokus bagi berbagai pihak, terutama pemerintah daerah. Namun, isu seperti ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan usaha dari pemerintah tanpa kontribusi masyarakat luas. Mengingat sedikit banyak masyarakat -baik disadari maupun tidak- juga mempunyai andil dalam menyebabkan pencemaran sungai, tentunya bukanlah hal yang berlebihan jika mereka dimintai tanggung jawabnya untuk ikut memperbaiki keadaan sungai Kapuas.
a
Masalah ini kini menjadi fokus bagi berbagai pihak, terutama pemerintah daerah. Namun, isu seperti ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan usaha dari pemerintah tanpa kontribusi masyarakat luas. Mengingat sedikit banyak masyarakat -baik disadari maupun tidak- juga mempunyai andil dalam menyebabkan pencemaran sungai, tentunya bukanlah hal yang berlebihan jika mereka dimintai tanggung jawabnya untuk ikut memperbaiki keadaan sungai Kapuas.
a
Tindakan yang diperlukan tidaklah harus berupa keikutsertaan dalam melakukan atau membiayai riset yang dewasa ini banyak dilakukan dalam rangka mencari jalan keluar dalam meminimalisir kerusakan dan efek pencemaran sungai Kapuas. Dengan tidak membuang sampah dan limbah ke sungai saja masyarakat sudah ikut serta menjaga kebersihan sungai Kapuas.
a
Jika masyarakat ingin membantu lebih dalam mengurangi kandungan logam berat di sungai salah satu alternatif tindakan yang bisa dilakukan yaitu dengan memanfaatkan eceng gondok (Eichornia crassipes). Ya, tanaman yang selama ini dianggap sebagai tanaman gulma ternyata bisa membantu dalam meminimalisir kandungan logam berat di sungai.
a
Mengapa eceng gondok?
a
Menurut penelitian di laboratorium Biokimia, Institut Pertanian Bogor diketahui bahwa ternyata tanaman eceng gondok ini dapat menyerap logam berat.
a
Penelitian daya serap eceng gondok dilakukan terhadap besi (Fe) tahun 1999 dan timbal (Pb) pada tahun 2000.
a
Hasil penelitian pertama membuktikan bahwa penurunan kadar logam Fe secara signifikan. Pada hari ke-7, kadar logam Fe dalam sampel air sumur menurun hingga 74,47 persen. Selanjutnya terlihat, semakin lama semakin banyak logam besi yang diserap, hingga mendekati 0.
a
Sedangkan penelitian kedua terhadap timbal (Pb) menunjukan adanya penurunan kadar logam Pb secara signifikan pada hari ke-7. Kadar logam Pb menurun hingga 99,7 persen. Analisis pada hari-hari selanjutnya (hari ke-14, 21, dan 28) menunjukkan perubahan kadar Pb tidak terlalu jauh dengan kadar logam Pb pada hari ke-7.
a
Eceng gondok terbukti mampu menurunkan kadar polutan timbal (Pb) dan besi (Fe). Oleh karena itu, diyakini eceng gondok juga mampu menurunkan kadar polutan merkuri (Hg), tembaga (Cu), dan seng (Zn). Sebab, secara struktur kimia, atom Hg, Zn, dan Cu termasuk dalam golongan logam berat bersama Pb dan Fe.
Eceng gondok terbukti mampu menurunkan kadar polutan timbal (Pb) dan besi (Fe). Oleh karena itu, diyakini eceng gondok juga mampu menurunkan kadar polutan merkuri (Hg), tembaga (Cu), dan seng (Zn). Sebab, secara struktur kimia, atom Hg, Zn, dan Cu termasuk dalam golongan logam berat bersama Pb dan Fe.
a
Pemanfaatan eceng gondok dalam memperbaiki kualitas air sudah sudah cukup sering dilakukan mengingat eceng gondok memiliki kemampuan menyerap zat pencemar yang tinggi daripada jenis tumbuhan lainnya. Kemampuan penyerapan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya komposisi dan kadar zat yang terkandung dalam air limbah, kerapatan eceng gondok, dan waktu tinggal eceng gondok dalam air limbah.
a
Buat anda semua, kini sudah ada banyak pilihan cara untuk ikut memberikan sumbangsih kita dalam menjaga sungai yang jadi nadinya Kalimantan Barat ini. Nah, sudah tidak ada alasan untuk tidak ikut menjaga sungai Kapuas dong?
;) ;p :)
a
Dari berbagai sumber
0 komentar:
Poskan Komentar